Jumat, 30 Mei 2008

Untuk Yang Buta Hati

Tiga lelaki berkendara sekuter berderet gagah persis di depan ku. Malam itu, jarum jam tangan menyatu di angka 12. Pengendara motor masih saja bergerombol layaknya kelelawar di pohon rindang.

Belum juga lampu berpindah dari warna merah, puluhan roda dua menerobos tak teratur menantang malam yang mulai sunyi. Hanya aku dan tiga orang bersekuter yang masih menunggu hingga lampu berganti hijau. Seketika salah satu dari mereka meneriaki para pengendara nakal, “Woy, buta warna lo pada ya,” dan sekejap pula hati kecil ku menjawab, “Mendingan mereka buta warna, dari pada ‘dia’ buta hati.”

Entah mengapa jiwaku begitu marah, menyeruak ingin protes akan ketidaknyamanan dengan seseorang. Tentang hati yang ditinggal pergi, tentang rasa yang belum mati, tentang hari yang berubah sepi, dan tentang pagi beku yang tak terselimuti.

Limabelas menit lalu aku baru saja menjadi pecundang. Meniadakan malu untuk sebuah pengakuan. Membiarkan tetesan air mata membasahi pipi dan tak ingin ku hapus untuk sebuah arti. Sayang, dia hanyalah manusia yang buta hati, penyakit yang lebih parah dari buta warna.

Angin malam masih menjilati tubuh letihku. Sunyi mengajakku melewati waktu. Membiarkan rintikan air mata kering dengan sendirinya. Berteriak dalam bungkam dan menangis dalam angkuh. Aku pun tak ingin dia tahu apa itu sakit. Tak ingin pula membiarkannya larut dalam rasa yang kini kualami. Dan tetap ku biarkan dia bernari di atas panggung kehidupannya. Meneruskan jalan yang tersedia, dan menyeretnya dalam realita.

Karena aku dan dia sempat berdiri di sebuah gradasi. Menyorot fatamorgana untuk hubungan yang semu. Bermain-main lilin yang seketika berubah menjadi kobaran api. Kini, lilin kecilku tak lagi menawarkan ketenangan dalam gelap, lilin itu perlahan membakar kulitku, menawarkan sebuah rasa perih yang tak terobati.

Teruntuk MEREKA yang buta hati, kelak hidup akan mengajakmu berputar melewati roda dunia. Berhenti pada satu fase dimana giliranmu yang terlantar oleh keangkuhan.

Jumat, 11 April 2008

HILANG



Peliputan public expose salah satu bank di Hotel Grand Preanger Bandung kemarin membawa ku ke tempat 1001 malam yang menawarkan ketenangan dalam damai. Aku menikmati tiap tetesan air mata yang mengalir tak hentinya meronakan pipi dan mata yang lelah.


Seusai sholat Isya berjamaah, ingatanku melayang pada masa-masa indah bersama papa yang tersadar sudah 10 bulan berlalu. Kepergiannya yang tak terganti, satu-satu mulai terobati dengan kehadiran sang imam muda dalam fase hidupku yang baru.

Usia perak ku hanya tinggal menghitung hari. Terlalu banyak momen penting yang tak dapat terangkum dalam sebuah blog. Tentang kehadiran teman-teman baru, pun kehilangan satu demi satu.

Profesi journalis memang akan selalu bertemu banyak orang, banyak rival, dan banyak hal. Ini pula yang mengantarku bertemu jodoh yang insyaallah dengan ridhoNya akan melabuhkan kapal besar yang telah mengarungi samudra luas.

Tentang teman sepeliputan. Beberapa pekan lalu, sempat tersiar bahwa seorang wartawati koran ekonomi rolling dari desk yang selama ini kami gandrungi. Kabar itu membuat ku menghela napas lega, seakan berfikir betapa damainya hidup tanpa dia, setelah 15 bulan kehadirannya menyelimuti rasa dendamku. Wanita serakah yang sombong dan licik.

Berbeda dengan perempuan satu ini, yang selalu berebut mic saat aku ingin melantunkan angel nya Sarah Mclahen. Perempuan satu-satunya yang berani aku boncengi naik motor menjelajah Jakarta dalam dunia tanpa detik. Membangunkan ku pagi-pagi untuk kabar keberadaan seorang narsum di satu tempat. Bahkan mendengar tiap keluh perjuanganku menuju pernikahan tanpa bosan menyuport hal-hal yang positif.

Dan bagaimana aku tidak terhentak membaca sms perpisahannya tengah malam yang mengabarkan dia rolling ke desk lain di luar ekonomi. Tak ada lagi teman bergosip sambil menunngu narsum berjam-jam di tiap lorong tempat. Yang aku bayangkan adalah suasana setelah tak ada dia, dimana aku harus bergaul dengan wartawan-wartawan baru yang tak mengenal apa itu LDR, NPL, dan membantu ku memancing narsum untuk keluarkan statemen indah penghias headline halaman dalam.

Blog ini ku buat di atas city trans dalam perjalanan Bandung menuju Jakarta. Jari jemari sepertinya tak sanggup menekan nut dan tersadar air mata pun membasahi nut comunacator yang menjadi nyawaku setahun terakhir ini. Aku menyadari betapa kehilangan itu sangat menyakitkan.

Kemarin pagi, sambil menunggu jemputan ke Bandung dari BEJ, aku menelvonnya sekadar mengkonfirmasi berita Bank Mandiri yang jadi HL halaman ku dua hari lalu. Sebab sudah dua hari ini aku tidak bergemul dengan rutinitas bersama orang-orang yang biasanya aku temui. Dengan suara parau dia angkat telvon dan aku pun tak peduli karena telah membangunkan tidurnya.


Setelah omong-omong soal berita, aku menuturkan kegundahanku menjelang hari penting dalam hidupku. Semua gedung penuh untuk resepsi sebelum September, harga catering sangat mahal, dan lain sebagainya. Terakhir, aku berkata akan segera resign untuk bekerja di luar jurnalistik. Dengan suara manja, dia ungkapkan "Kok lw gak sedih sih mau resign," aku pun menjawab, "Ngapain jadi wartawan, melalikan tugas wanita sampe lupa harus menikah," ternyata bukan itu jawaban yang harusnya keluar. Ini soal pertemanan tak sekadar karir. Aku tau dia juga kehilangan mendengar aku akan menikah dan beralih ke dunia yang lain. Tapi ternyata, ditinggalkan jauh lebih sakit dibanding meninggalkan. Intensitas pertemuan kami memang sangat berkualitas, hingga melampaui pergantian matahari terbit dan terbenam.

Sudah tiga kali aku berganti kantor sejak aku mengenal profesionalisme dan apa itu karir. Karirku yang dimulai sebagai seorang marketing cargo mengajarkan cara berinteraksi yang baik dengan teman-teman sekantor. Pernah sekali aku menahan agar air mata tak menetes saat melihat Yuli berpamitan karena mendapatkan pekerjaan baru. Dunia marketing tak bedanya dengan wartawan, kami banyak menghabiskan waktu di jalan, dan Yuli lah teman bergantian menyupir Karimun yang disediakan kantor untuk meloby costumer. Semangatku sempat anjlok usai kepergiannya walaupun aku sadar harus bersikap profesional.

Dan setelah Iras pergi, rasanya akan lebih hilang dari itu. Separuh jiwa ku seperti berhenti, ternyata lebih kehilangan dibandingkan putus cinta. Mungkin tak ada lagi yang akan meng arrange jadwal karaoke di Vizta tiap malam di akhir pekan. Berbagi bloototh berita jadi, atau melemparkan isu korporat satu sama lain. Bahkan yang lucunya, kisah dua wartawan yang dikerjain narsum karena gak ngaku dirut BCA padahal kami tau betul itu orangnya, mungkin dia takut disangkutpautkan dengan kasus BLBI atau dia nerves disalami dua wartawan secantik kami.

What ever lah, semua kisah itu hanya bisa terukir dalam lembaran jalan yang akan dipenuhi oleh kepergian dan kedatangan orang-orang yang disiapkan untuk kita. Yang jelas, semakin bertambah usia akan semakin sendiri dan banyak kehilangan orang-orang yang membekas di hati.
March 11, 2008

Di Sebuah Persimpangan

“Aku hanya sebuah jalan bercabang, masih bisa balik arah untuk kembali, sebelum ini menjadi sejarah, dan tak bisa lagi balik arah”…sepenggal kalimat itu dikirim oleh seorang teman sepeliputan lewat yahoo messanger akhir pekan lalu. Teman yang ternyata begitu berbekas di kepalaku saat ini.

Mulailah sebuah masa dimana aku mulai merasa cinta di titik nadir. Kadang persimpangan yang selalu menyebabkan kebingungan. Air mata dan senyum tak menentukan pertanda pedih atau bahagia.

Aku mulai menohok pada satu makna dari segala pencarian. Jalan yang selalu saja menawarkan cita rasa tersendiri untuk ku pilih. Sampai aku pun memilih jalan bebas hambatan dan terpaksa merogo kocek lebih dalam.

Tentang pernikahan, percintaan, dan pertemanan. Tiga kata yang punya makna beda. Menikah bukan berarti telah memilih orang yang kita cintai. Mencintai juga bukan menjanjikan adanya pernikahan. Dan pertemanan lebih simple dari itu semua, tapi punya hasil akhir yang lebih signifikan.

Kali ini aku tak peduli tentang posisi. Andai saja rencana besar itu belum ada, mungkin tak se pelik ini rasanya. Tapi, adalah sebuah rencana di atas rencana. Aku tak mungkin lagi menolak takdir. Membiarkan banyak mata menangis untuk memenangkan ego ku sendirian. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan untuk menuruti kata hati. Tak mampu pula aku berteriak, “Kenapa baru sekarang aku merasa ingin pergi?” padahal aku sangat sadar betapa kebosanan pada sosok realita.

Ingin rasanya melewati jalan di tengah gunung gemunung dan lambaian ilalang. Tapi cukup sudah, aku tlah berada dalam antrian panjang pintu tol, tak mampu mundur, tapi belum juga tiba di mulut jalan. Aku pun terpaksa bersabar menanti pada giliran.

Aku Cuma punya sedikit waktu menikmati nuansa biru dengan teman yang sangat luar biasa. Teman yang pada akhirnya membuyarkan konsentrasi ku pada yang satu untuk memaruh kasih sayang menjadi dua. Akhirnya, aku hanya bisa membiarkan waktu berjalan begitu cepat. Dan berupaya sekuat tenaga agar bisa diperlambat kecepatannya.

Sesekali akal liarku berkata untuk melewati lebih jauh jalan yang bercabang itu. Tapi malaikat kecilku berkata, ini lah persimpangan yang membutuhkan sebuah peta. Sekali kau ambil jalan yang salah, waktumu akan terbuang sia-sia.